Groupthink Theory
Groupthink Theory ( Teori Pemikiran
Kelompok )
Deskripsi Teori
Sebagai
makhluk sosial, manusia cenderung hidup
dengan cara berkelompok. Berbagai kelompok manusia bisa ditemukan di atas
permukaan bumi ini. Dasar pandangan dalam membentuk kelompok itu sendiri bisa
berdasarkan dari berbagai macam hal. Mulai dari kelompok orang yang mempunyai
hobi yang sama, aktivitas yang sama, sampai kelompok orang yang berasal dari
suatu daerah yang sama. Didalam sebuah kelompok sering kali anggota-anggota
kelompok terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian konsensus
lebih diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal sehat. Mereka menekan
konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan baik, atau ketika anggota
kelompok tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua solusi yang ada, mereka rentan
dalam groupthink.
Dari sini, groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada
proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik
terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar
kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat
merugikan kelompok
Irvin L. Janis dalam “Victims of
Groupthink:A Psychological Stusy of Foreign Decisions and Fiascoes” dalam (Inggrit s, 2011) menyatakan groupthink sebagai mode berfikir
sekelompok orang yang sifatnya kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang
dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat (kebulatan
suara) telah mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif
tindakan secara realistis.
Groupthink
merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya
konsep groupthink didorong oleh
kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan
oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya,
ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal.
Asumsi
Asumsi pertama groupthink berkaitan dengan karakteristik kehidupan kelompok
kohesif, Suatu Kondisi di dalam kelompok yang memiliki kohesivitas tinggi.
Ernest Bormann (1996) mengamati bahwa anggota kelompok sering memiliki sentimen
atau emosional, dan sebagai akibatnya mereka cenderung mempertahankan identitas
kelompok. Pemikiran kolektif ini biasanya jaminan bahwa suatu kelompok akan
menjadi menyenangkan dan mungkin sangat kohesif.
Asumsi kedua diteliti pada proses
pemecahan masalah dalam kelompok kecil, Ini biasanya merupakan usaha yang terpadu. Dengan ini, berarti bahwa orang
tidak cenderung untuk mengganggu dalam pengambilan keputusan kelompok. Anggota
kelompok pada dasarnya berusaha untuk menghindari konflik. Suatu kelompok yang
terdapat gejala groupthink menghindar dari penyebab-penyebab konflik. Misalnya,
anggota kelompok menghindari perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan antara
individu, anggota kelompok menghindari perbedaan kepribadian di antara mereka
yang disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang kebudayaan, anggota
kelompok menghindari perbedaan kepentingan individu atau kelompok, anggota
kelompok mengindari perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat
karena adanya perubahan nilai atau sistem yang berlaku.
Asumsi ketiga menekankan pada sifat
pemecahan masalah dalam kelompok yang kompleks. Marvin Shaw (1981) dan
Janet Fulk dan Joseph Mc Grath (2005) mendiskusikan isu-isu tambahan yang
berkaitan dengan kompleksitas suatu kelompok. Mereka mencatat bahwa berbagai
pengaruh pada sebuah kelompok kecil, Misalnya anggota kelompok usia, sifat
kompetitif anggota kelompok, ukuran kelompok, kecerdasan anggota kelompok,
komposisi jenis kelamin kelompok, dan gaya kepemimpinan yang muncul dalam
kelompok. Selanjutnya, latar belakang budaya masing-masing anggota kelompok
dapat mempengaruhi proses kelompok. Misalnya, karena banyak budaya tidak
menempatkan premi pada komunikasi terbuka dan ekspresif, beberapa anggota
kelompok dapat menahan diri dari perdebatan atau dialog.
Penjelasan
Groupthink
adalah sebuah teori yang terkait dengan komunikasi kelompok kecil.
Kelompok-kelompok kecil merupakan bagian dari fenomena hampir setiap segmen
masyarakat dunia. Marshall Scott Poole (1998) berpendapat bahwa kelompok kecil
harus'menjadi 'unit dasar analisis'. Irvings Janis (1972) memfokuskan karyanya
pada pemecahan masalah yang berorientasi pada kelompok dan tugas kelompok, yang
tujuan utamanya adalah untuk membuat keputusan dan memberikan rekomendasi
kebijakan. Pengambilan keputusan adalah bagian penting dari kelompok-kelompok
kecil ini. Kegiatan lain dari kelompok-kelompok kecil mencakup berbagi
informasi , bersosialisasi, berhubungan dengan orang-orang dan
kelompok-kelompok di luar kelompok, mendidik anggota baru, menentukan peran,
dan bercerita (Frey & Sunwolf, 2005; poole & Hirokawa. 1996).
Istilah groupthink, yang diciptakan
oleh psikolog sosial Irving Janis (1972), dapat terjadi ketika sebuah kelompok
membuat keputusan yang salah karena tekanan kelompok yang sangat kohesif
mengarah ke penurunan "efisiensi mental, realitas pengujian, dan pertimbangan
moral". Groupthink juga
cenderung merendahkan pendapat kelompok
lain. Kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh groupthink akan mengabaikan
alternatif-alternatif lain dan cenderung mengambil tindakan yang
men-dehumanisasi kelompok lain.
Contoh Kasus
Contoh groupthink, sebuah kasus
tenggelamnya kapal yang memiliki sistem komponen mesin yang di atur oleh sebuah
kelompok kecil, salah satu anggota mekanik kelompok tersebut telah mengetahui
adanya gangguan dalam mesin kapal tersebut, sebelum diberangkatkan berlayar
oleh nahkodanya, namun karena kepala mekanik tersebut mengatakan bahwa kapal
siap untuk berlayar, maka seluruh anggota mekanik dalam kelompok tersebut harus
menjalankan tugasnya sampai pada akhirnya kapal tersebut mengalami gangguan di tengah
tengah perjalananya dan sampai pada akhirnya tenggelam dan menewaskan seluruh
awaknya. Namun para mekanik tetap
membela kelompoknya dengan alasan bahwa suatu kecelakaan lumrah saja terjadi.
Jadi tidak ada pihak yang salah. Namun tentunya, pengakuan mereka dianggap
demikian oleh masyarakat sejauh media massa memberitakannya sesuai dengan
alasan seluruh mekanik tersebut.
Evaluasi
Groupthink,
terjadi manakala ada semacam konvergenitas pikiran, rasa, visi, dan nilai-nilai
di dalam sebuah kelompok menjadi sebuah entitas kepentingan kelompok, dan
orang-orang yg berada dalam kelompok itu dilihat tidak sebagai individu, tetapi
sebagai representasi dari kelompoknya. Apa yang dipikirkan, dirasa, dan
dilakukan adalah kesepakatan satu kelompok. Tidak sedikit keputusan-keputusan
yang dibuat secara groupthink itu yang berlawanan dengan hati nurani
anggotanya, maupun orang lain di luarnya. Namun mengingat itu kepentingan
kelompok, maka mau tidak mau semua anggota kelompok harus kompak mengikuti arah
yang sama agar tercapai suatu kesepakatan bersama.
Faktor utama Concurrent Seeking Behavior sering menjadi dasar terjadi
groupthink. Concurrent Seeking Behavior
adalah perilaku kecenderungan saling ketergantungan dan kesepakatan bersama
untuk bersatu dalam memecahkan masalah dalam kelompok. Perilaku ini muncul
dipengaruhi variabel kelompok kohesif, struktur kelompok yang jelek dan konteks
provokatif. Ketiga variabel inilah yang mempengaruhi kelompok untuk cenderung
menggunakan groupthink dalam pemecahan masalah.
Komentar
Posting Komentar