Nasi Pecel Mbah Kinem
Nasi Pecel Mbah Kinem
Pukul 6 pagi, ketika mentari masih malu –
malu untuk menampakkan dirinya, sinar hangatnya pun telah sampai mengantarkan
saya ke gedung berlantai 25 untuk mengais
rezeki, bukan tanpa alasan saya berangkat kerja sepagi itu, Ya, Singgah
sarapan di kedai Mbah Kinem, kedai masakan tradisional indonesia tersebut
berdiri tepat disebelah gedung tempat saya bekerja, kedai yang dikelola seorang
nenek tangguh di bantu cucu gadisnya yang cantik yang bernama Nurhayati membuat
saya semakin bersemangat hanya untuk sekedar sarapan di kedai Mbah kinem,
seperti biasa, Dengan tak membuang – buang waktu lagi sayapun langsung memesan
makanan favorit saya sejak dari zaman SD sampai sekarang, “ Nasi Pecel “,
Makanan yang menggunakan sambel kacang sebagai bahan utamanya yang di campur
dengan aneka jenis sayuran yang direbus segar seperti kacang panjang, kangkung,
bayam, sawi putih, taoge, irisa timun , kol, serta daun kemangi yang disajikan
dengan nasi putih kemudian di siram sambel kacang yang gurih sebagai topping
ditambah tempe goreng tepung ditemani satu pot teh poci hangat semakin menambah
gejolak pagi hari saya. Makanan ini ternyata sudah ada semenjak masa penjajahan
Belanda, Buktinya, di Suriname, wilayah bekas jajahan Belanda juga terdapat
pecel, meskipun ada perbedaan rasa di bumbu dan isinya, karena mengikuti selera
dan keadaan di sana (Suriname). Konsep hidangan pecel mirip dengan
hidangan salad, Keduanya sama-sama menggunakan sayuran segar sebagai bahan
utama, Perbedaannya adalah, jika kebanyakan salad menggunakan mayones sebagai
dressing, maka pecel menggunakan sambal kacang. Makanan ini juga mirip dengan
gado-gado, walau ada perbedaan dalam bahan-bahan yang digunakan.
Suap demi suap nasi pecel yang disajikan
dengan alas piring dari daun pisang tersebut berpindah ke mulut saya, sesekali
mata saya melirik sosok Nurhayati, gadis cantik cucu mbah kinem yang
membantunya berjualan makanan tradisional di kedainya menambah keindahan pagi
yang cerah kala itu, Tak terasa waktu telah menunjukka pukul setengah tujuh
pagi, saya pun bergegas membayar satu porsi “ Nasi Pecel “ dan satu pot teh
poci yang hanya dikenakan tarif Rp. 20.000 saja, tak lupa saya berpamitan dan
mengucapkan terimakasih kepada Nurhayati dan lagsung bergegas menuju gedung
berlantai 25 disebelah untuk memulai kewajiban saya sebagai seorang karyawan.

Komentar
Posting Komentar